Permasalahan dan Potensi Industri Kecil dan Rumah Tangga

Indsutri Kecil dan Rumah Tangga meskipun mempunyai potensi didalam menggerakkan pembangunan melalui pemerataan berusaha, industri kecil dan rumah tangga juga terdapat permasalahan yaitu[1] :
§   Waktu market entry and exit relatif singkat;
§   Manajemen bersifat manual;
§   Produktivitas usaha dan tenaga kerja (umumnya anggota keluarga) rendah;
§   Orientasi pasar sangat terbatas;
§   Pendidikan rata-rata manajer hanya tingkat Sekolah Dasar;
§   Usaha dibuat sebagai usaha sampingan.
Selain beberapa permasalahan di atas, terdapat permasalahan lain[2]yaitu:
§   Ketergantungan bahan baku impor yang tinggi (diperkirakan 30 – 60 %).
§   Daya saing industri masih relatif rendah.
§   Struktur industri masih lemah.
§   Penguasaan teknologi pada IKM belum optimal.
§   Ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan dunia usaha industri masih rendah.
Berdasarkan pada Rencana Induk Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Tahun 2002-2004[3]terdapat permasalahan eksternal yang antara lain :
1.      Banyak pola-pola bantuan teknik[4] yang kurang efektif, antara lain karena penerapan pola umum tersebut secara atas-bawah (top-down) kurang mempertimbangkan aspek kelayakannya menurut kondisi spesifik obyek binaan di lapangan, serta kurang konsistennya dukungan sumberdaya dan lemahnya manajemen.
2.      Kurangnya pendekatan pemecahan masalah pengembangan secara komprehensif, dengan konsekwensi pentingnya keterpaduan dalam pelaksanaan.
3.      Belum efektifnya mekanisme bawah-atas (bottom-up) di lapangan.
4.      Banyak program pemberdayaan, khususnya kegiatan pendidikan dan pelatihan banyak yang kurang memenuhi kebutuhan nyata dari obyek binaan di lapangan.
5.      Intervensi pemerintah, termasuk sistim insentif yang ada sering kali kurang menyentuh kebutuhan sektor riil. Pengembangan sistim insentif baru sering terkendala oleh cara pandang sempit dan kepentingan jangka pendek, serta kekhawatiran akan penyalah-gunaan karena lemahnya aspek pengawasan.
6.      Masih adanya keengganan di sebagian masyarakat IKM untuk melakukan perubahan yang bersifat modernisasi dikarenakan oleh hambatan kultural dan tingkat pendidikan.
7.      Sering terlupakannya cara pendekatan rekayasa sosial (social engineering) dalam melakukan kegiatan transformasi sosial terhadap obyek binaan (IKM) di daerah.
8.      Kurangnya pola pikir konseptual-komprehensif dalam penyusunan program maupun pemecahan masalah, sehingga banyak langkah pembinaan kurang berhasil-guna.
Apabila dilihat dari permasalahan secara umum tidak terletak pada indsutri kecil dan menengah, namun terletak pada tingkat pemahaman dari pemerintah atau pemberi bantuan peningkatan industri kecil dan menegah yang tidak sesuai dengan karakteristik dan sifat dari sistem dan mekanisme industri kecil dan menengah tersebut. Oleh karena itu, dalam refleksi dari Departemen  Perindustrian dan Perdagangan menyatakan adanya ketidakpahaman antara pemerintah dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh indsutri kecil dan menengah, sehingga mengakibatkan bantuan modal dan teknis sering salah sasaran dan tidak dapat menyelesaikan masalah.
Sedangkan potensi industri kecil dan rumah tangga, menurut Kwik Kian Gie, dalam “Ensiklopedia Ekonomi, Bisnis dan Manajemen” (1997; 265), secara aspek sosial dan politik, sektor industri kecil adalah sektor yang terdiri atas orang-orang berpenghasilan rendah yang cenderung dilupakan dan diremehkan, tetapi mampu memberi stabilitas untuk ketenangan usaha bagi sektor usaha skala besar, karena antara lain kemampuan menampung tenaga kerja dan pengangguran. Sektor ini juga merupakan sektor paling merana kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya, tetapi bagi bangsa secara keseluruhan, mereka adalah sektor yang mampu berfungsi sebagai peredam, penampung dan penangkal letupan dan ledakan yang secara potensial bisa terjadi dengan meningkatnya pengangguran dari waktu ke waktu.[5] 
Menurut Tambunan[6], potensi industri kecil dan rumah tangga adalah :
§   Walaupun masih lemah dalam system manajemen, usaha dalam industry kecil dan rumah tangga telah memiliki perangka inernal (organisasi, manajemen dan pekerja) yang cukup memandai untuk dikembangkan terutama bagi pengusaha yang telah berpengalaman.
§   Relatif telah mampu mengabsorbsi (menangkal) ketidakpastian (uncertainty) dan resiko pasar
§   Mampu berperan sebagai safety valve dalam mengatasi kemiskinan dan pengangguran.



[1] Tambunan. 1998.
[2] -----------, 2009, Kebijakan  Pembangunan Sektor Industri Melalui Pendekatan Klaster. Forum Pengembangan Dan Pendampingan Klaster IKM Melalui FPESD. Semarang. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah. Tanggal : 14 Juli 2009.
[3] ---------. 2002. Rencana Induk Pengembangan Indusri Kecil dan Menengah, BUKU I : Kebijakan dan Strategi Umum Pengembangan Industri Kecil Menengah. Jakarta : Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Hal. 2
[4] Pola-pola Bantuan Teknik a.l.: UPT, LIK, SUIK, PIK, WARSI, UPP, Klinik HaKI, Klinik GKM dan sebagainya..
[5] Artikel ini diunduh dari reyog city yang ditulis oleh Slamet Santoso dan telah diterbitkan pada Jurnal Ekuilibrium Vol. 1, No. 1, September 2005, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
[6] Tambunan. 1998.

Subscribe to receive free email updates: