01/03/2013

Hama-Hama Kedelai

Hama-Hama Kedelai

Berbeda dengan padi sawah, kedelai mempunyai banyak jenis hama yang menyerang sejak di fase pembibitan sampai fase polong. Hama tanaman merupakan faktor pembatas utama produksi kedelai di Indonesia. Karena serangan hama tinggi, produksi selalu rendah sehingga kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kedelai nasional yang selalu meningkat setiap tahunnya. Saat ini kita harus mengimpor kedelai lebih dari satu juta ton. Karena banyak serangan hama, penggunaan pestisida kimia relatif sangat tinggi, rata-rata satu musim aplikasi pestisida sekitar 4-5 kali.

Urutan 6 besar hama-hama kedelai adalah: 1) Lalat kacang, 2) Penggerek polong, 3) Tikus, 4) Ulat grayak, 5) Penggulung daun dan 6) ulat jengkal. Di samping menghadapi serangan hama kedelai juga menghadapi serangan banyak penyakit virus yang vektornya adalah serangga Bemisia sp dan Aphis sp.  

Hama-hama kedelai dapat dikelompokkan menurut fase pertumbuhan kedelai yang diserang yaitu:
a. Lalat menyerang bibit seperti Agromyza sp 
b. Hama-hama pemakan daun seperti Spodoptera sp, Phaedonia sp, Plusia sp
c. Hama-hama pengisap daun seperti Empoasca sp, Bemicia sp, Aphis sp
d. Hama-hama pegisap polong seperti Riptortus sp, Nezara sp
e. Hama-hama penggerek polong seperti Etiella sp dan Heliothis sp.

Berikut diuraikan sedikit sifat, perilaku dan cara pengendalian hama-hama kedelai menurut urutan bahayanya.


1. Lalat Kacang (Agromyza phaseoli)
Paling sedikit ada 3 spesies lalat kacang yaitu A. phaseoli, A. ojae dan A. dolichostigma. Yang pertama merupakan yang paling penting. Stadia larva merupakan stadia yang merusak tanaman kedelai fase perkecambahan dan tanaman muda.

Gejala serangan:
Gejala awal berupa tanda bintik-bintik putih pada keping biji, daun pertama atau daun kedua. Bintik-bintik tersebut merupakan bekas tusukan alat peletak telur pada pangkal kotiledon dan pangkal daun. Pada keping biji dan pasangan daun pertama terdapat alur atau garis berkelok-kelok berwarna coklat yang merupakan lubang gerekan. Akibat gerekan jaringan pengangkut terputus, sehingga akar mati tanaman layu dan mati. Kematian tanaman dijumpai pada tanaman berumur 14-30 hari.

Pengelolaan:
1.    Pergiliran tanaman dengan tanaman non Leguminosae
2.    Seed treatment
3.    Penggunaan mulsa jerami
4.    Tanam serentak dengan selisih waktu antara tanam awal dan tanam akhir tidak lebih dari 10 hari, dilakukan pada areal yang cukup luas.

2. Penggerek polong (Etiella zinckenella)
Gejala serangan:

Tanda serangan berupa lubang gerekan berbentuk bundar pada kulit polong. Apabila terdapat dua lubang gerek pada polong tersebut berarti ulat sudah pergi. Di dalam polong terserang terdapat butir-butir kotoran ulat yang berwarna kuning atau coklat muda yang menggumpal. Akibat serangan hama ini dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen. Telur diletakkan pada malam hari, pada bagian bawah kelopak bunga atau pada polong secara berkelompok. Populasinya tinggi pada saat musim kemarau daripada musim hujan.

Pengelolaan:
1.    Pemantauan dini
2.    Tanam serempak pada areal yang luas
3.    Sanitasi terhadap inang alternatif
4.    Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
5.    Untuk daerah endemis penggerek polong, perlu diterapkan penanaman tanaman perangkap.
6.    Pemanfaatan musuh alami seperti Apanteles sp, Trichogramma sp, Tachinidae, predator Lycosa sp dan Oxyopes sp
7.    Pengendalian dengan insektisida efektif dilakukan apabila populasi hama telah mencapai ambang pengendalian

3. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Gejala serangan:
Larva muda secara bergerombol makan epidermis bawah daun sehingga menimbulkan gejala transparan, yang tersisa hanya tulang-tulang daun dan epidermis bagian atas, daun yang rusak tampak berwarna keputih-putihan. Serangan ulat instar awal dapat menimbulkan gejala transparan pada daun, sedang serangan oleh ulat instar akhir dapat menimbulkan gejala berupa berlubang pada daun bahkan polong termakan habis.



Pengelolaan:
1.    Pemantauan terhadap kelompok instar 1 atau gejala awal daun yang tampak keputih-putihan dilakukan setiap minggu sejak tanaman berumur 14 HST
2.    Melakukan tanam serentak dan pergiliran tanaman
3.    Pengendalian dini setelah ditemukan populasi
4.    Pengendalian secara fisik dan mekanik yakni dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva kemudian dimusnahkan
5.    Penggunaan Sl NPV
6.    Pemanfaatan musuh alami predator Carabidae, Reduviidae, parasitoid Telenomus, Tachinidae, Ichneumonidae
7.    Pengendalian dengan insektisida secara spot treatment dibatasi sampai dengan instar 3

4. Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicata)
Gejala serangan:
Ulat merusak tanaman kedelai berumur 3-4 minggu setelah tanam. Ulat makan dari gulungan daun. Apabila gulungan tersebut dibuka, daun akan tampak tinggal tulang-tulangnya. Ulat diam di dalam gulungan daun yang direkatkan satu sama lain dengan benang air liurnya. Ulat membentuk kepompong di dalam gulungan daun tersebut.

5. Ulat Jengkal  (Plusia chalcites)
Ulat jengkal berwarna hijau dan bergerak seperti menjengkal, bentuk larva tua mempunyai ciri khas. Ulat jengkal menyerang tanaman kedelai berumur muda dan tua. Dalam satu musim tanam hanya dijumpai satu generasi. Daun yang terserang ulat pada populasi tinggi tinggal tulang daun saja atau bahkan habis sama sekali. Pada tahun 1983 luas serangan hama ini mencapai 24000 ha dengan intensitas serangan 40%.

5.    Kepik Hijau (Nezara viridula)
Gejala serangan:
            Nimfa dan dewasa menghisap cairan biji kedelai. Serangan pada fase pembentukan dan pertumbuhan polong/biji menyebabkan polong/biji kempis, mengering dan gugur. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena ada biji hitam pada biji atau biji menjadi keriput.
            Gejala serangan jelas terlihat kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat.

Pengelolaan:
1.    Sanitasi tanaman inang liar jauh sebelum tanam
2.    Pengamatan terutama dilakukan pada tanaman perangkap. Pengamatan dilakukan pada umur 42, 49, 56, 63, dan 70 HST terhadap imago, telur dan nimfa.
3.    Penggunaan pestisida dilakukan apabila populasi mencapai ambang pengendalian yang mungkin terjadi hanya pada tanaman perangkap

7. Kepik Polong (Riptortus linearis)
Tingkat kerusakan secara ekonomis di lapang sulit untuk diperkirakan karena biasanya terjadinya kerusakan bersamaan dengan pengisap polong lainnya.

Gejala serangan:
Kepik menyerang polong dan biji. Serangan pada fase perkembangan biji dan pertumbuhan polong menyebabkan polong dan biji kempis, kemudian mengering dan polong dapat gugur. Serangan pada fase pengisian biji menyebabkan biji menjadi hitam dan busuk. Serangan pada polong tua menyebabkan kualitas biji menurun karena adanya bintik-bintik hitam pada biji atau biji menjadi keriput. Gejala serangan jelas terlihat pada kulit biji dan kulit polong bagian dalam berupa bintik hitam atau coklat. Kerusakan pada biji dan kulit polong disertai dengan serangan jamur.

8.    Kutu Hijau (Aphis sp)
Kutu hidup dalam koloni dan perkembangbiakan secara parthenogenesis sehingga populasi dapat meningkat dengan cepat. Ekskresi kutu hijau menghasilkan embun madu yang dapat merangsang tumbuhnya cendawan jelaga yang menutupi permukaan daun dan polong sehingga mengganggu fotosintesis. Populasi kutu hijau dipengaruhi oleh curah hujan yang dapat menurunkan populasi. Kutu hijau berperan sebagai vektor penyakit virus kedelai antara lain virus kerdil kedelai, virus mosaik kuning dan virus kate kedelai.

Pengelolaan:
1.    Tanam serentak pada areal yang cukup luas
2.    Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya
3.    Menanam varietas toleran (berbulu tegak)
4.    Penggunaan benih bermutu dan sehat
5.    Pemantauan sedini mungkin
6.    Pencabutan tanaman muda yang terserang virus
7.    Pemanfaatan musuh alami diantaranya predator Coccinelidae, Menochilus sexmaculata, Harmonia octomaculata, Verania lineata.

9. Kutu Kebul (Bemisia tabaci)
Serangan berat akan terjadi terutama pada musim kemarau karena didukung dengan suhu yang tinggi.

Gejala serangan:

Nimfa dan kutu dewasa mengisap cairan daun. Ekskreta kutu kebul menghasilkan embun madu yang merupakan medium tumbuh cendawan jelaga sehingga sering tanaman tampak berwarna hitam. Hama ini juga bertindak sebagai vektor penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) yang menyebabkan tanaman kerdil dan daunnya belang-belang kuning tersamar. Hama menyerang tanaman sejak tanaman membentuk daun pertama dan puncak populasinya terjadi pada fase setelah pembungaan.

Pengelolaan:
1.    Tanam serentak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 10 hari
2.    Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang
3.    Menanam varietas toleran
4.    Pemanfaatan musuh alami parasitoid Encarsia sp dan beberapa jenis kumbang Coccinelidae antara lain Menochilus sp, Scymnus sp

10. Kumbang Daun (Phaedonia inclusa)
Imago dan larva dapat merusak daun, batang pucuk, tangkai daun pucuk, kuncup daun, kuncup bunga, bunga, polong muda dan kulit polong bagian luar yang telah berisi penuh sampai polong menguning. Akibat serangan hama ini daun kedelai menjadi gundul dan dapat menurunkan produksi atau bahkan tanaman tidak menghasilkan sama sekali.

Gejala serangan:
Serangan larva dan dewasa dapat berlangsung pada fase pertumbuhan tanaman. Daun tampak berlubang dan polong muda luka-luka, sedang pada polong tua kulitnya yang dimakan. Serangan lebih lanjut pada tangkai daun dan batang pucuk menyebabkan daun dan pucuk terkulai layu kemudian mengering.

Pengelolaan:
1.    Pemantauan dilakukan tiap minggu sampai tanaman berumur 49 HST
2.    Tanaman serentak dan pergiliran tanaman penting untuk menurunkan infestasi awal
3.    Penurunan populasi dapat dilakukan dengan cara pengumpulan dan pemusnahan imago dan larva pada pagi dan sore hari.
4.    Pemanfaatan musuh alami predator telur, larva dan pupa yaitu Solenopsis geminata.

Hama-Hama Kedelai Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ombar Pakpahan